Industri pengolahan kelapa sawit di Kalimantan Timur, khususnya di wilayah Samarinda dan Kutai Kartanegara, menghadapi tantangan operasional yang brutal. Lantai pabrik di sini bukan sekadar alas pijak; ia adalah aset krusial yang menopang alur produksi dari penerimaan Tandan Buah Segar (TBS) hingga menjadi Crude Palm Oil (CPO).
Namun, kombinasi mematikan dari serangan asam lemak, beban truk 30 ton, dan kelembaban tropis seringkali menghancurkan lantai beton biasa dalam hitungan bulan [1]. Kerusakan ini memicu biaya perbaikan masif dan downtime produksi yang merugikan.
Artikel studi kasus ini membedah strategi zonasi material—kapan harus menggunakan Heavy Duty Floor Hardener dan kapan beralih ke Polyurethane Concrete—untuk memastikan umur layanan lantai yang optimal di lingkungan ekstrem PKS (Pabrik Kelapa Sawit).
Tiga Musuh Utama Lantai Pabrik Sawit
Mengapa lantai beton biasa cepat hancur di PKS? Identifikasi masalah adalah langkah awal solusi:
- Serangan Asam Lemak Bebas (FFA):
Tumpahan CPO mengandung asam yang bereaksi dengan kalsium di beton. Reaksi ini mengubah beton yang keras menjadi lunak, berdebu, dan keropos (erosi kimia), terutama di area press station dan tangki penyimpanan [3]. - Beban Mekanis Ekstrem:
Area loading dock dan jembatan timbang harus menahan truk pengangkut TBS dengan beban gandar di atas 30 ton. Beton biasa akan retak dan permukaannya tergerus (abrasi) oleh gesekan roda [2]. - Guncangan Termal (Thermal Shock):
Area rebusan (sterilizer) menggunakan uap panas. Perubahan suhu mendadak (lantai panas disiram air dingin) membuat pelapis kaku seperti epoxy biasa retak dan mengelupas (delaminasi) [1].
Zonasi 1: Area Loading Dock & Gudang (Fokus Mekanis)
Di area penerimaan buah dan gudang, ancaman utamanya adalah beban fisik, bukan kimia. Solusi paling ekonomis dan tangguh adalah Heavy Duty Floor Hardener (HDH).
Mengapa Floor Hardener?
HDH adalah sistem tabur (dry shake) yang diaplikasikan saat beton masih basah (wet-on-wet). Ini menciptakan permukaan yang menyatu monolitik dengan beton, bukan sekadar menempel di atasnya.
- Rekomendasi Material: Gunakan HDH berbasis Agregat Logam (Metallic Aggregate) seperti ferrosilikon.
- Keunggulan: Meningkatkan ketahanan abrasi hingga 8x lipat dibanding beton biasa dan tahan benturan jatuhnya TBS [2].
- Aplikasi: Dosis minimal 5–7 kg/m² untuk area lalu lintas truk berat di Samarinda.
Zonasi 2: Area Produksi & Pengolahan (Fokus Kimia & Panas)
Masuk ke area sterilizer, digester, dan clarification, musuhnya berubah menjadi Asam Lemak dan Uap Panas. Floor hardener tidak akan bertahan di sini karena tidak tahan asam.
Solusi definitifnya adalah Polyurethane Cement (PU Concrete).
Mengapa Bukan Epoxy Biasa atau Keramik?
- Epoxy Standar: Tidak tahan panas ekstrem (>60°C). Akan melepuh dan retak.
- Keramik Tahan Asam: Ubinnya kuat, tapi nat (grout) adalah titik lemah. Jika nat rusak, asam merembes ke bawah dan menghancurkan beton dasar.
- PU Concrete (Juara): Tahan suhu hingga 120°C, kebal terhadap asam lemak sawit, dan seamless (tanpa sambungan).
Tabel Perbandingan Material Area Produksi
| Karakteristik | Epoxy Novolac | Keramik Tahan Asam | PU Concrete (Recommended) |
| Ketahanan Asam (FFA) | Tinggi | Sangat Tinggi | Sangat Tinggi |
| Ketahanan Panas | Rendah | Sedang | Sangat Tinggi (>120°C) |
| Titik Lemah | Getas / Retak | Sambungan Nat | Tidak Ada (Seamless) |
| Ketebalan | 2 – 4 mm | Tebal (Ubin) | 6 – 9 mm |
Mengatasi Kelembaban Tinggi Samarinda
Kutai Kartanegara memiliki kelembaban tanah yang tinggi. Uap air yang naik dari tanah (rising damp) sering membuat lapisan pelapis lantai melepuh (blistering).
Solusi Teknis:
Sebelum aplikasi PU Concrete, wajib memasang Moisture Vapor Barrier (MVB). Ini adalah lapisan primer khusus yang menahan tekanan uap air dari bawah, memastikan pelapis lantai tetap melekat sempurna meskipun beton dasarnya lembab [1].
Kesimpulan
Tidak ada satu material “ajaib” untuk seluruh area pabrik sawit. Strategi terbaik untuk pemilik pabrik di Kalimantan Timur adalah Zonasi Material:
- Gunakan Metallic Floor Hardener untuk area kering berbeban berat (Loading/Gudang).
- Gunakan PU Concrete tebal (6-9mm) untuk area basah, panas, dan berasam (Produksi).
Investasi awal pada sistem yang tepat akan menghilangkan biaya perbaikan berulang dan menjaga lantai tetap higienis serta aman untuk operasional jangka panjang.





